SMAN CMBBS

sMAN CAHAYA MADANI BANTEN BOARDING SCHOOL.

SAYEMBARA PENULISAN BAHAN BACAAN GERAKAN LITERASI NASIONAL 2017

Sayembara Penulisan Bahan Bacaan GLN 2017

PRAJAB ANGKATAN X

Angkatan X Diklat Prajabatan Prov Banten 2016

Tampilkan postingan dengan label guru kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru kreatif. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Maret 2017

WORKSHOP "MENGUBAH PARADIGMA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DARI CALCULATING KE MATH THINKING"

Workshop "Mengubah Paradigma Pembelajaran Matematika dari Callculating ke Math Thinking" ini diselenggarakan oleh IGMP Matematika Pandeglang.
Hari/Tanggal : Minggu, 19 Maret 2017
Waktu : 07.30 - 15.00
Tempat : SMKN 2 Pandeglang
Sasaran : Guru matematika SMA SMP, Guru Kelas SD, Mahasiswa Matematika
Untuk mengikuti Workshop ini silahkan menghubungi contac person panitia yang tercatum dalam pamflet



Sabtu, 04 Februari 2017

Penggunaan QR Code sebagai Verifikator Jawaban

Berikut salah satu contoh ide pemanfaatan qr code sebagai verifikator jawaban pada soal.


Cara penggunaanya sederhana saja. cukup membuat kolom soal, jawaban, dan verifikator. Pada kolom verifikator kita bisa menempatkan kode qr yang berisi kunci jawaban. Untuk membuat qr code kunci jawaban dalam bentuk plain text bisa melalui web qrstuff. Sedangkan untuk type equation, harus dirubah dulu kedalam image. Kemudian image tersebut bisa kita buat kode qr'nya. Setelah siswa mengisi jawaban, kita bisa langsung mengoreksi dengan cukup memanfaatkan kamera ponsel kita dan mengarahkan ke kode qr yang sudah kita sematkan. Cukup memudahkan pekerjaan bukan? ^^

Rabu, 01 Februari 2017

KELEBIHAN MEMBUAT QUIZ PADA EDMODO

Salah satu platform pembelajaran sosial untuk guru/dosen, siswa/mahasiswa yang kita kenal adalah edmodo. Kali ini saya akan menjelaskan kelebihan membuat quiz pada edmodo

membuat quiz pada edmodo sangatlah mudah. berikut langkah - langkahnya
1. buka akun edmodo
2. klik tulisan "quiz" kemudian pilih "create a quiz"
3. pilih bentuk quiz yang kita kehendaki. disana tersedia beberapa bentuk quiz, diantaranya multiple choice, true false, short answer, fill in the blank, dan matching
4. klik "+add first question"


untuk mata pelajaran matematika sendiri, menulis equation di edmodo sangatlah mudah. yaitu menggunakan kode latex. pembuatan kode latex sudah pernah saya ulas pada artikel sebelumnya. silahkan klik tautan berikut (kode latex)
kode latex yang sudah dibuat tinggal dimasukkan ke dalam question prompt dengan menambahkan [/math][/math] di ujung - ujung kode latex. perhatikan gambar berikut untuk lebih jelasnya


kita bisa mengatur beberapa hal pada quiz yang kita buat, diantaranya :
a. time limit siswa dalam mengerjakan quiz 
b. points atau skor tiap soal 
c. urutan pengerjaan soal (fitur : Randomize questions) 
d. hasil siswa mengerjakan quiz diperlihatkan atau tidak (fitur : show results)

5. setelah selesai membuat quiz klik "done". maka akan muncul halaman seperti dibawah ini. Pada edmodo, quiz juga bisa kita print. hanya saja untuk matematika yang menggunakan equation kode latex tidak saya sarankan untuk di printout, karena yang muncul masih format kode latex. solusinya mungkin menulis equation bisa dalam bentuk jpg. tidak menggunakan kode latex.


pada halaman tersebut kita bisa mengatur kapan "due date" pengerjaan quiz (tanggal dan jam paling lambat untuk mengerjakan quiz)
selain itu jika kita ingin menunda memposting quiz yang kita buat, silahkan klik "send later" . saat kita klik send later, maka kita akan diminta untuk menentukan kapan quiz yang kita buat akan diposting. jika sudah, quiz yang sudah kita buat akan terposting secara otomatis pada tanggal dan jam yang sudah kita setting tadi. berikut tampilan "send later"


Setiap ada siswa yang pengerjakan quiz, akan ada notifications, baik di edmodo maupun di email kita. Selain itu akan muncul hasil siswa, berapa skor yang mereka peroleh pada pengerjaan quiz, juga high scores siswa.

Tidak hanya skor, setelah siswa mengerjakan quiz, kita bisa melihat statistik tingkat kesukaran soal yang kita buat, karena pada edmodo akan ditampilkan berapa persen siswa yang berhasil menjawab benar atau salah pada setiap soal.

Kita bisa melihat rekap nilai siswa melalui menu "progress" (berada dibagian paling atas, sebelah icon home). pilih kelas yang ingin kita lihat progressnya. akan muncul tampilan seperti berikut :


 Kita juga bisa mengexport nilai siswa melalui fitur "export" . ketika kita klik "export" maka secara otomatis akan muncul nilai siswa dalam format csv (exel) seperti berikut :


demikian sedikit ulasan saya mengenai kelebihan membuat quiz pada edmodo. semoga bermanfaat ^^





Selasa, 31 Januari 2017

MEMBIASAKAN MENULIS

Bagaimana membiasakan menulis? saya kerap kali bertanya dalam hati bagaimana membiasakan diri untuk menulis. jikapun belum pantas dikatakan "membiasakan", setidaknya bagaimana memulai menulis itu. meski saat ini saya sedang menulis, saya kerap kali merasa kesulitan saat memulai menulis. kesulitan untuk mengawali kalimat, entah kata apa yang pertama kali harus tertuangpun kadang-kadang menjadi blank. Meski mulanya di otak sudah ada ide yang hendak tertuang, tiba-tiba saat jari mulai menyentuh keyboard, semua rasanya seperti lenyap begitu saja. Why? jawabannya saya pikir karena "tidak terbiasa"! saya akui itu. kenapa tidak terbiasa? jawabannya bisa banyak hal. kemungkinannya mungkin seperti ini :

Belum Sadar tentang Pentingnya Menulis

Bagi sebagian orang, mungkin bertanya-tanya "Apa pentingnya menulis?". Apalagi bagi guru. banyak guru yang belum terbiasa dengan dunia tulis menulis. Guru Matematika misalnya, mungkin justru berpikir "Lho.. tulis menulis itu kan kegiatannya guru Bahasa Indonesia? Guru matematika mah cukup berkutat dengan angka saja". Misalnya seperti itu. Apakah pendapat tersebut benar? sy secara personal tidak sependapat dengan pemikiran tersebut. Menurut wikipedia, menulis merupakan kegiatan menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Jadi sangatlah beralasan, jika setiap guru harus terbiasa dengan menulis, sebab guru merupakan salah satu sumber informasi atau perantara informasi bagi muridnya. Nah, ini pentingnya menulis bagi guru :

Guru sebagai salah satu penyaji informasi

Sebagai seorang penyaji informasi, guru perlu belajar menulis, sebab informasi yang disampaikan akan mudah diterima jika informasi disajikan secara sistematis dan runtun. Disinilah salah satu manfaat menulis, karena dengan menulis, apa yang kita baca, apa yang kita pelajari akan mudah diingat. Apa yang ada di pikiran kita akan lebih runtun dan sistematis apabila dituangkan dalam sebuah tulisan. Dan tulisan yang sistematis itu membantu kita ketika akan mengeluarkannya secara lisan. Orang yang terbiasa menulis, bisa dipastikan apa yang diucapkannya pasti akan terdengan runtun,tidak berputar-putar, enak di dengar, dan mudah diterima. Pun ini menjadi pengingat dan pembelajaran untuk saya pribadi, karena saya bermasalah dengan public speaking, sepertinya dengan belajar menulis akan memperbaiki kemampuan berbicara sy di depan publik :)

Menulis penting dan mutlak diperlukan dalam Karya Ilmiah. 

Ketika kita menjadi guru, suatu ketika pasti kita menemukan permasalahan dalam proses pembelajaran yang kita ajarkan. Entah itu sikap belajar siswa, entah itu hasil belajar siswa, dsb. Nah, tentu permasalahan tersebut membutuhkan solusi perbaikan. Dari permasalahan itulah guru harus mengadakan Penelitian Tindakan Kelas, atau yang kita kenal dengan PTK. Disinilah "menulis" itu berperan. Dengan membiasakan menulis (apapun itu), akan sangat membantu ketika kita akan menyusun sebuah karya ilmiah.

Kurang membaca 

Salah satu penyebab merasa susah menulis adalah kurangnya membaca. Seseorang yang susah menulis bisa dikarenakan tidak ada atau kurangnya "ide" menulis. Kenapa bisa sampai kurang ide? karena bisa jadi kurangnya wawasan pengetahuan, yang erat hubungannya dengan kurangnya aktivitas mencari informasi seperti dengan kegiatan membaca, atau mendengarkan berita (misalnya). Membaca dan Menulis erat kaitannya. keduanya sama-sama bermuara pada penyajian informasi. Membaca mencari informasi, kemudian menulis menuangkan kembali informasi hasil membaca agar lebih mudah diingat dan dipahami. "If you don't have time to read, you don't have the time (or the tools) to write. Simple as that" (Stephen King). Jadi jelas, membaca adalah salah satu "alat" untuk menulis. Begitu kira-kira :)

Malas atau Belum Ada Motivasi

Nah, ini alasan klasik yang sering hinggap di kebanyakan orang (ternmasuk saya. hehehe). Malas seringkali menyusup dengan berbagai alasan. "Nggak ada waktulah.., sibuklah.., nggak tau cara memulailah..," dsb. Untuk kasus ini nggak ada obat lain selain harus dipaksa memulai. Kalau saya sih mengakalinya dengan menulis yang ringan-ringan. Entah itu sekedar menulis untuk mengekpresikan Isi Hati (#eh :p ) Yup.. ini dia yang kebanyakan dilakukan perempuan. Nulis Diary. hehe.., tidak masalah. itupun suatu saat akan bermanfaat. Menulis menyisakan lega, begitu menurut saya :) , meskipun selama ini saya hanya menulis sebatas pendapat personal, menulis tentang dunia masak memasak, tapi saya terus berusaha meningkatkan kemampuan menulis saya. entah bagus atau enggak, entah ada yang membaca atau tidak, yang penting belajar menulis. tidak akan ada yang sia-sia, insyaAllah... Setidaknya hal-hal itu sebagai pemicu semangat saya dan alasan saya kenapa harus memulai membiasakan diri "menulis". Ala bisa karna biasa.. begitu kata pepatah. Tanpa memulai, tentu tidak akan terbiasa. Maka dari itu, mulailah.. biasakanlah..

sekian ^^

 Ikatlah ilmu dengan menuliskannya (Imam syafi'i)

Minggu, 29 Januari 2017

"SAGUSABLOG" Guru Nge-Blog Bersama IGI



Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Sedangkan Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran.
Kompetensi Profesional seorang Pendidik salah satunya adalah mampu memanfaatkan TeknoIogi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Sampai saat ini pemanfaartan media pembelajaran online belum berkembang dengan optimal di Indonesia. Salah satu kendala pengembangan media pembelajaran online adalah kurang dikuasainya teknologi pengembangan media online oleh para pengajar.
Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membuat dan memanfaatkan media pembelajaran online, maka IGI  menyelenggarakan Workshop Pembuatan Blog Guru dengan nama SAGUSABLOG.  Pada workshop ini, guru berlatih membuat dan memanfaatkan blog yang nantinya akan bermanfaat sebagai salah satu media pembelajaran. Baik penyampaian materi, interaksi ataupun tes secara online bisa dilakukan melalui blog yang telah dibuat.
sagusablog blog guru
didownload dari https://mr.mung.web.id/
Kegiatan workshop pembuatan blog guru dilaksanakan dengan sistem daring full online 24 jam, dari tanggal 29 Januari s/d 05 Februari 2017. Workshop ini diikuti peserta sebanyak kurang lebih 150 orang. Peserta di wajibkan untuk menyelesaikan 6 modul pada kategori kelas dasar dan 9 modul pada kategori kelas lanjut. Nantinya peserta yang telah menyelesaikan workshop akan mendapat sertifikat 41 JP dari IGI.
Pelatihan  yang dikembangkan dan diterapkan ini diharapkan akan memberikan wawasan baru dalam pembuatan media pembelajaran online khususnya blog, mengingat pembuatan blog yang menarik relatif mudah. Dengan dikuasainya pembuatan blog ini diharapkan akan pemicu kreatifitas guru dalam membuat media pembelajaran yang menarik sehingga siswa lebih bersemangat dalam belajar, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan.

Belajar Membuat QRCode

Kode QR adalah suatu jenis kode matriks atau kode batang dua dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave, sebuah divisi Denso Corporation yang merupakan sebuah perusahaan Jepang dan dipublikasikan pada tahun 1994 dengan fungsionalitas utama yaitu dapat dengan mudah dibaca oleh pemindai QR merupakan singkatan dari quick response atau respons cepat, yang sesuai dengan tujuannya adalah untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan mendapatkan respons yang cepat pula. Berbeda dengan kode batang, yang hanya menyimpan informasi secara horizontal, kode QR mampu menyimpan informasi secara horizontal dan vertikal, oleh karena itu secara otomatis Kode QR dapat menampung informasi yang lebih banyak daripada kode batang.(soon,2008)(wikipedia)
Awalnya kode QR digunakan untuk pelacakan kendaraan bagian di manufaktur, namun kini kode QR digunakan dalam konteks yang lebih luas, termasuk aplikasi komersial dan kemudahan pelacakan aplikasi berorientasi yang ditujukan untuk pengguna telepon seluler. Di Indonesia, kode QR pertama kali diperkenalkan oleh KOMPAS. Dengan adanya kode QR pada koran harian di Indonesia ini, pembaca mampu mengakses berita melalui ponselnya bahkan bisa memberi masukan atau opini ke reporter atau editor surat kabar tersebut.
Ternyata dengan berkembangnya kode QR dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Beberapa waktu lalu, melalui diskusi di salah satu forum telegram yaitu IDT (Indonesia Digital Teacher), seorang rekan membagikan inspirasi penggunaan kode ini dalam pembelajaran, diantaranya sebagai verifikator jawaban siswa saat ulangan, perpustakaan materi (shortcut menuju website yang terkait materi tanpa harus mengetikkan alamat website), juga lebih lanjut lagi, kode QR dapat dipasang pada kartu pelajar, sehingga akan mempermudah proses absensi siswa, dan mempermudah akses bagi para siswa,guru, dan orang tua murid kepada informasi proses belajar mengajar.
Lantas bagaimana cara membuat Kode QR ini?
Sebenarnya sudah banyak tutorial pembuatan kode QR ini di youtube. berikut saya lampirkan salah satu video tutorial pembuatan kode QR ini.

Selain seperti yang dicontohkan dalam tutorial, kita bisa juga membuat kode QR melalui website qrstuff
Berikut salah satu kode QR yang saya buat.
Penasaran dengan isi kode QR yang saya buat ini? :) Jangan khawatir.., cara membaca kode QR ini cukup mudah.
Kode QR dapat dibaca dengan menggunakan kamera ponsel yang memiliki aplikasi pembaca kode QR dan memiliki akses internet GPRS atau WiFi atau 3G untuk menghubungkan ponsel dengan situs yang dituju via kode QR tersebut. Dalam hal ini adalah pengguna ponsel hanya harus mengaktifkan program pembaca kode QR. Pada android misalnya, pengguna cukup mendownload aplikasi "qrcode reader for android" di playstore. kemudikan cara penggunaannya cukup dengan mengarahkan kamera ke kode QR, selanjutnya program pembaca kode QR akan secara otomatis memindai data yang telah tertanam pada kode QR. Jika kode QR berisikan alamat suatu situs, maka pengguna dapat langsung mengakses situs tersebut tanpa harus lebih dulu mengetikkan alamat dari situs yang dituju. Begitu juga jika kode berisi plain text, maka kalimat yang ada dalam kode tersebut dapat terbaca dengan mudah.

Semoga bermanfaat ^^


Menjadikanmu Kukuh Nak, Bukan Kaku



Tertarik dengan tulisan salah seorang sahabat teman saya, Dhian Nurma. Saya copy dari blog misscelanous though. Tulisan ini bagi saya pribadi menjadi pengingat untuk saya sebagai seorang guru yang masih berada dalam taraf “guru kognitif” agar terus memperbaiki diri, bercermin menjadi lebih baik. Boleh ya saya bagi.. ^^
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kemarin sepulang dari sebuah agenda, saya tidak sengaja menemukan selembar publikasi yang berisikan sebuah pengumuman tentang penerimaan siswa baru sebuah taman kanak-kanak.
Awalnya saya mengamati bagian biaya. Untuk biaya perbulan 150ribu perbulan dan biaya masuk sebesar 1,5 juta sudah termasuk 4 stel pakaian sekolah. Jadi teringat biaya di TK tempat saya mengajar yang perbulannya 450rb dan biaya masuk sebesar 8,5 juta. Oh, well. Pendidikan sekarang memang mahal. Dan sulit sekali menemukan taman kanak-kanak yang memiliki biaya murah di zaman serba mahal seperti ini.

Tapi yang paling menganggetkan adalah kurikulum yang ditawarkan oleh mereka (sekolah dengan biaya 150ribu perbulan itu), antara lain:

* Membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia
* Membaca dan menulis dalam bahasa Inggris
* Belajar komputer


Entah mengapa mereka bangga. Saya tidak paham.

Begini, dari beberapa buku yang saya baca serta salah satu jurnal tentang pendidikan yang pernah saya unduh di internet, banyak yang menyatakan bahwa, anak-anak di bawah umur 7 tahun harusnya lebih banyak melalui fasa bermain, bukan belajar. Apalagi sampai belajar membaca dan menulis.

Mereka (anak-anak dibawah umur 7 tahun) boleh diperkenalkan dengan huruf-huruf dan angka-angka, tetapi bukan belajar mengeja apalagi hingga membaca.
Makanya saya juga cukup kaget waktu tahu ada beberapa taman kanak-kanak yang mewajibkan tes tertulis, berhitung, dan membaca.

Kenapa dilarang?

Karena akan mematikan fungsi otak kanan yaitu yang lebih menguasai tentang kreativitas.


Tahu tidak mengapa anak-anak Indonesia itu lebih banyak meraih olimpiade dibandingkan nobel. Dari sebuah artikel yang pernah saya baca dan saya pernah mengalami sendiri, di olimpiade kita lebih menggunakan otak kiri, sedangkan untuk mendapatkan nobel kita perlu inovasi dan karya terbaru di sebuah bidang, yang berarti juga membutuhkan keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri.

Dari sini kita bisa melihat, bahwa pendidikan di Indonesia lebih menginginkan anak-anaknya menjadi robot-robot dengan kecerdasan otak kiri yang begitu maksimal, dibandingkan menyeimbangkan keduanya. Padahal, anak-anak di umur 0-7 tahun, adalah masa keemasan anak-anak yang menentukan sikap atau karakter seorang anak di masa mendatang.

Dan, keseimbangan otak kanan dan otak kiri bisa didapatkan dengan lebih banyak bermain dan berinteraksi sosial dibandingkan berkutat dengan huruf dan angka.


Saya kemudian ingin berbagi salah satu artikel yang tidak sengaja saya baca tadi pagi sembari sarapan. Tulisan karya Rhenald Kasali yang berjudul Dua Jenis Guru.
Diungkapkan bahwa ada dua jenis guru; guru kognitif dan guru kreatif. Yang mana guru kognitif sangat berpengetahuan. Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasehat, sayangnya sedikit sekali didengarkan. Bagi guru jenis ini, ia akan merasa bangga jika muridnya mendapat nilai tinggi, disiplin belajar, ramput rapi, bajunya dimasukkan ke dalam celana/ rok, dan hafal semua materi yang diajarkan. Bagi guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia (brain memory). Asumsinya, semakin banyak yang dihafal dan diketahui seseorang, semakin pintar orang itu, sehingga memiliki masa depan yang baik. Dan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang lebih baik.

Guru kognitif adalah guru-guru yang sangat berdisiplin. Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat (PNS), sangat patuh pada ”tupoksi”. Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anak-anak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit. Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya. Anak-anak ini tidak terlatih menembus barikade masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.

Anak-anak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi, bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya, sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya.

Sedangkan guru kreatif adalah guru yang sering kali dianggap aneh di belantara guru-guru kognitif. Sudah jumlahnya sedikit, mereka sering kali kurang peduli dengan tupoksi dan silabus. Mereka biasanya juga sangat toleran terhadap perbedaan dan cara berpakaian siswa. Tetapi, mereka sebenarnya guru yang bisa mempersiapkan masa depan anak-anak didiknya. Mereka bukan sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka.

Belenggu- belenggu itu bisa jadi ditanam oleh para guru, orang tua, dan tradisi seperti tampak jelas dalam membuat gambar (pemandangan, gunung dua buah, matahari di antara keduanya, awan, sawah, dan seterusnya). Atau belenggu-belenggu lain yang justru mengantarkan anak-anak pada perilaku-perilaku selfish, ego-centrism, merasa paling benar,sulit bergaul, mudah panik, mudah tersinggung, kurang berbagi, dan seterusnya.

Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan sekadar soft skills, apalagi hard skill. Berbeda dengan guru kognitif yang tak punya waktu berbicara tentang kehidupan, mereka justru bercerita tentang kehidupan (context) yang didiami anak didik. Namun, lebih dari itu, mereka aktif menggunakan segala macam alat peraga. Bagi mereka, memori tak hanya ada di kepala, tapi juga ada di seluruh tubuh manusia.

Memori manusia yang kedua ini dalam biologi dikenal sebagai myelin dan para neuroscientist modern menemukan myelin adalah lokomotif penggerak (muscle memory). Di dalam ilmu manajemen, myelin adalah faktor pembentuk harta tak kelihatan (intangibles) yang sangat vital seperti gestures, bahasa tubuh, kepercayaan, empati, keterampilan, disiplin diri,dan seterusnya.

Saat bertemu guru-guru kognitif, saya sempat bertanya apakah mereka menggunakan alat-alat peraga yang disediakan di sekolah? Saya terkejut, hampir semua dari mereka bilang tidak perlu, semua sudah jelas ada di buku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak tahu bahwa sekolah sudah menyediakan mikroskop dan alatalat bantu lainnya. Sebaliknya,guru-guru kreatif mengatakan: ”Kalau tidak ada alat peraga,kita akan buat sendiri dari limbah. Kalau perlu, kita ajak siswa turun ke lapangan mengunjungi lapangan. Kalau tak bisa mendatangkan Bapak ke dalam kelas, kita ajak siswa ke rumah Bapak,” ujarnya. Saya tertegun. Seperti itulah guru-guru yang sering saya temui di negara-negara maju. Di negara-negara maju lebih banyak guru kreatif daripada guru kognitif. Mereka tak bisa mencetak juara Olimpiade Matematika atau Fisika,tetapi mereka mampu membuat generasi muda menjadi inovator, entrepreneur, dan CEO besar. Mereka kreatif dan membukakan jalan menuju masa depan.

Inilah mengapa, pengetahuan mengenai bagaimana mendidik anak di masa emas tumbuh kembangnya sangat perlu dipahami dengan baik oleh para orang tua dan calon orang tua.